Postingan

Tujuan Paling Akhir

Apa kamu mengenal orang-orang yang merindukan kematian? Apa kamu kenal rasanya rindu bertemu dengan Rabbi, sehingga tak ingin rasanya hidup lebih lama? Apa kamu pernah tahu bahwa para ulama begitu mendambakan kematian karena hidup terlalu lama membuat mereka takut jika dosa juga semakin banyak? Bukannya takut mati. Bukannya takut kehilangan dunia ini. Karena kita semua sedang menuju tujuan paling akhir kita, yaitu mati, dimana disitulah hidup kita dimulai lagi, hidup yang jauh lebih kekal abadi, di akhirat nanti.  Bagi mereka yang rindu kematian dan menjadikan akhirat tujuan akhirnya, bagi mereka, ternyata hidup seluruhnya adalah ujian. Ketika mereka gembira, mendapatkan banyak harta rejeki, bertemu dengan teman-teman baik, memperoleh anak-anak yang sholeh dan sholehah, mereka tidak sombong. Karena kegembiraan bagi mereka adalah ujian syukur. Mereka justru merasa diuji lewat hal-hal baik, melihat apakah mereka bisa bersyukur, bisa kah mengakui bahwa semua itu atas karunia Allah buk...

Kualitas Dunia atau Akhirat?

Bismillahirrahmanirrahim. . Selamat pagi, semuanya! Sudahkah kita memulai sesuatu dengan bismillah, dan meniatkan semuanya untuk beribadah kepada Allah? Mulai pagi ini, mari kita awali setiap kegiatan kita dengan bismillah ya. Kenapa? Agar setiap amalan kita dapat berkualitas akhirat, agar segala perbuatan dicatat sebagai hal yang baik, dan diterima oleh Allah SWT. Bagaimana dengan kualitas dunia? Insyaallah, jika Allah saja mengakui perbuatan kita, maka apalagi hamba Allah bukan? Jika tulus dalam setiap perbuatan kita, masyarakat akan menerima dan merasakan kebaikan itu. Lalu, mana dulu, kualitas dunia atau kualitas akhirat? Tentu, jika bisa keduanya akan lebih baik. Tapi kalau harus memilih salah satu, maka, pilihannya tentu saja kualitas akhirat. Karena, hidup di dunia hanya sementara dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Apa yang kita jalani saat ini mungkin akan berakhir saat kita mati, mungkin 60 tahun, mungkin sampai 90 tahun yang itu pun sudah lama sekali rasanya. Akan te...

Re-hecting "menjahit lagi"

Gambar
Hai, semuanya! Saat ini usiaku 23 tahun. Ketika teman-temanku sudah banyak yang bekerja bahkan menikah dan punya anak, aku masih sekolah dan belum selesai-selesai. Hehe. Doakan ya, semoga tahun depan sudah bisa lulus. Aamiin. Sebenarnya sejak kecil, aku tidak tahu ingin jadi apa. Aku sesekali bilang kalau aku ingin jadi dokter. Tapi ternyata sebetulnya bukan. Itu karena ayahku seorang dokter dan beliau sering bilang aku anak pintar dan bisa jadi dokter. Akhirnya, aku pikir aku bisa menjadi dokter.  Saat SD, impianku menjadi siswa teladan saja. Dan hal itu tercapai saat aku kelas 6 SD, aku berhasil menjadi juara harapan III siswa teladan se-Jawa Timur. Walau hanya lingkup provinsi, ya tapi aku sudah sangat senang. Setelah lulus, aku masuk pondok. Cita-citaku berubah dan saat itu aku tiba-tiba ingin ke luar angkasa. Tiap hari aku mempelajari bentuk-bentuk rasi bintang yang terlihat dari lapangan basket di sekolah. Aku mempelajari bagaimana mencari arah timur, barat, dan ...

Menangis Saja Dek

Aku tahu kamu hari ini melewati waktu yang berat, hatimu luka, pikirmu lelah, dan jiwamu kosong. Tanpa kamu perlu cerita, tatapanmu memberi tahuku segalanya. Menangis saja, dek. Aku akan menerimanya. Aku janji tidak akan menertawai muka lucumu ketika menitikkan air mata. Hari-hari yang berat akan berlalu. Hal-hal yang baik telah menunggu. Beban beratmu bisakah kau bagi saja denganku? Menangis saja, dek. Aku lebih baik kalau kamu menggerutu. Daripada diam namun kau menyimpan sejuta kelu. Mengilukan hati saat harus melihatmu begitu. Coba saja, pahamilah dirimu yang rindu. Coba saja, terima segala kekesalanmu. Kau boleh marah tapi aku tahu kau tak pernah bisa melakulannya, kan? Sudah ya tidak apa-apa. Kau bisa menangis di depanku. Kau boleh menangis tanpa malu.

Pilihanmu Penyesalanmu

Kita setiap hari memilih dengan begitu mudah tanpa kita sadari, hingga pilihan-pilihan sulit yang menyita seluruh energi. Karena setiap hembusan napas kita adalah pilihan. Memilih untuk melangkah atau berhenti. Memilih untuk berbicara atau bungkam. Juga memilih untuk bekerja atau diam saja. Mulai membuka mata, melangkahkan kaki, membuka mulut dan bersuara. Kita memilih untuk melakukannya atau tidak melakukannya. Karena memilih adalah rutinitas. Sedari kecil kita melakukan hingga seperti kebiasaan. Sehingga tidak terasa selama hidup kita sudah milyaran kali melakukan proses memilih. Maka, seharusnya tidak perlu khawatir menyesalinya. Karena memilih tidak karena kita ingin menang. Tapi memilih karena kita ingin belajar mengenai konsekuensi dari sebuah pilihan. Dan belajar memahami rasa, rasanya puas terhadap suatu pilihan, dan rasanya menyesal. Jika kita nisbahkan pilihan kita pada skenario Allah SWT, maka kita akan tenang. Di setiap hembusan napas kita serahkan pada Allah SWT, tenta...

Ragu, siapa rugi?

Menaruh ragu, siapa yang rugi, tidak berkurang yang diragukan, tapi hati sendiri yang kepikiran. Menaruh dengki, siapa yang rugi, bukan memburuk citra yang didengki, melainkan sifat sendiri yang semakin tak terpuji. Meluapkan marah, siapa yang rugi, tak akan hancur yang dimarahi, tapi akal sehat yang 'kan mengeras dan tercela sendiri. Jika saja bisa lebih sabar, maka Allah sendiri yang membersamai.

Menghindari argumen

"Nyata, setiap orang punya cara pandang yang berbeda-beda." "Namun, perbedaan itu indah, jika kita menerimanya dengan baik." "Jika semuanya ingin menang, akan terjadi adu argumen. Maksudnya adu argumen yang akan sia-sia." "Karena kita bertemu, untuk bersama menemukan kebenaran, dan saling memberi manfaat. Bukan untuk sendiri menjadi benar." Aku pernah bertemu dengan berbagai kamu dengan beragam karakter, berbeda latar belakang, tapi kita satu tujuan, yaitu kebenaran. Kebenaran agar terwujud keadilan agar semua dapat hidup bahagia. Kalau aku kekeuh dengan nilai kebenaran yang kuyakini, namun menafikan seluruh nilai kebenaranmu, tanpa perlu sedikit pun peduli, maka apa artinya aku (merasa) benar sendirian? Sekejap, hanya bangga akhirnya aku yang diakui semua orang sebagai paling benar. Merasa semua dalam diriku adalah kelebihan dan kekurangan adalah selain diriku. Mengacuhkan nilai benarmu tanpa mau mendengar. Berakhir sendirian. Karena kamu m...