Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Kualitas Dunia atau Akhirat?

Bismillahirrahmanirrahim. . Selamat pagi, semuanya! Sudahkah kita memulai sesuatu dengan bismillah, dan meniatkan semuanya untuk beribadah kepada Allah? Mulai pagi ini, mari kita awali setiap kegiatan kita dengan bismillah ya. Kenapa? Agar setiap amalan kita dapat berkualitas akhirat, agar segala perbuatan dicatat sebagai hal yang baik, dan diterima oleh Allah SWT. Bagaimana dengan kualitas dunia? Insyaallah, jika Allah saja mengakui perbuatan kita, maka apalagi hamba Allah bukan? Jika tulus dalam setiap perbuatan kita, masyarakat akan menerima dan merasakan kebaikan itu. Lalu, mana dulu, kualitas dunia atau kualitas akhirat? Tentu, jika bisa keduanya akan lebih baik. Tapi kalau harus memilih salah satu, maka, pilihannya tentu saja kualitas akhirat. Karena, hidup di dunia hanya sementara dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Apa yang kita jalani saat ini mungkin akan berakhir saat kita mati, mungkin 60 tahun, mungkin sampai 90 tahun yang itu pun sudah lama sekali rasanya. Akan te...

Re-hecting "menjahit lagi"

Gambar
Hai, semuanya! Saat ini usiaku 23 tahun. Ketika teman-temanku sudah banyak yang bekerja bahkan menikah dan punya anak, aku masih sekolah dan belum selesai-selesai. Hehe. Doakan ya, semoga tahun depan sudah bisa lulus. Aamiin. Sebenarnya sejak kecil, aku tidak tahu ingin jadi apa. Aku sesekali bilang kalau aku ingin jadi dokter. Tapi ternyata sebetulnya bukan. Itu karena ayahku seorang dokter dan beliau sering bilang aku anak pintar dan bisa jadi dokter. Akhirnya, aku pikir aku bisa menjadi dokter.  Saat SD, impianku menjadi siswa teladan saja. Dan hal itu tercapai saat aku kelas 6 SD, aku berhasil menjadi juara harapan III siswa teladan se-Jawa Timur. Walau hanya lingkup provinsi, ya tapi aku sudah sangat senang. Setelah lulus, aku masuk pondok. Cita-citaku berubah dan saat itu aku tiba-tiba ingin ke luar angkasa. Tiap hari aku mempelajari bentuk-bentuk rasi bintang yang terlihat dari lapangan basket di sekolah. Aku mempelajari bagaimana mencari arah timur, barat, dan ...

Menangis Saja Dek

Aku tahu kamu hari ini melewati waktu yang berat, hatimu luka, pikirmu lelah, dan jiwamu kosong. Tanpa kamu perlu cerita, tatapanmu memberi tahuku segalanya. Menangis saja, dek. Aku akan menerimanya. Aku janji tidak akan menertawai muka lucumu ketika menitikkan air mata. Hari-hari yang berat akan berlalu. Hal-hal yang baik telah menunggu. Beban beratmu bisakah kau bagi saja denganku? Menangis saja, dek. Aku lebih baik kalau kamu menggerutu. Daripada diam namun kau menyimpan sejuta kelu. Mengilukan hati saat harus melihatmu begitu. Coba saja, pahamilah dirimu yang rindu. Coba saja, terima segala kekesalanmu. Kau boleh marah tapi aku tahu kau tak pernah bisa melakulannya, kan? Sudah ya tidak apa-apa. Kau bisa menangis di depanku. Kau boleh menangis tanpa malu.

Pilihanmu Penyesalanmu

Kita setiap hari memilih dengan begitu mudah tanpa kita sadari, hingga pilihan-pilihan sulit yang menyita seluruh energi. Karena setiap hembusan napas kita adalah pilihan. Memilih untuk melangkah atau berhenti. Memilih untuk berbicara atau bungkam. Juga memilih untuk bekerja atau diam saja. Mulai membuka mata, melangkahkan kaki, membuka mulut dan bersuara. Kita memilih untuk melakukannya atau tidak melakukannya. Karena memilih adalah rutinitas. Sedari kecil kita melakukan hingga seperti kebiasaan. Sehingga tidak terasa selama hidup kita sudah milyaran kali melakukan proses memilih. Maka, seharusnya tidak perlu khawatir menyesalinya. Karena memilih tidak karena kita ingin menang. Tapi memilih karena kita ingin belajar mengenai konsekuensi dari sebuah pilihan. Dan belajar memahami rasa, rasanya puas terhadap suatu pilihan, dan rasanya menyesal. Jika kita nisbahkan pilihan kita pada skenario Allah SWT, maka kita akan tenang. Di setiap hembusan napas kita serahkan pada Allah SWT, tenta...

Ragu, siapa rugi?

Menaruh ragu, siapa yang rugi, tidak berkurang yang diragukan, tapi hati sendiri yang kepikiran. Menaruh dengki, siapa yang rugi, bukan memburuk citra yang didengki, melainkan sifat sendiri yang semakin tak terpuji. Meluapkan marah, siapa yang rugi, tak akan hancur yang dimarahi, tapi akal sehat yang 'kan mengeras dan tercela sendiri. Jika saja bisa lebih sabar, maka Allah sendiri yang membersamai.

Menghindari argumen

"Nyata, setiap orang punya cara pandang yang berbeda-beda." "Namun, perbedaan itu indah, jika kita menerimanya dengan baik." "Jika semuanya ingin menang, akan terjadi adu argumen. Maksudnya adu argumen yang akan sia-sia." "Karena kita bertemu, untuk bersama menemukan kebenaran, dan saling memberi manfaat. Bukan untuk sendiri menjadi benar." Aku pernah bertemu dengan berbagai kamu dengan beragam karakter, berbeda latar belakang, tapi kita satu tujuan, yaitu kebenaran. Kebenaran agar terwujud keadilan agar semua dapat hidup bahagia. Kalau aku kekeuh dengan nilai kebenaran yang kuyakini, namun menafikan seluruh nilai kebenaranmu, tanpa perlu sedikit pun peduli, maka apa artinya aku (merasa) benar sendirian? Sekejap, hanya bangga akhirnya aku yang diakui semua orang sebagai paling benar. Merasa semua dalam diriku adalah kelebihan dan kekurangan adalah selain diriku. Mengacuhkan nilai benarmu tanpa mau mendengar. Berakhir sendirian. Karena kamu m...

Memaafkan yang Lebih Sulit

Memaafkan yang lebih sulit dari meminta maaf. Karenanya Allah menyuruh hambaNya saling memaafkan, bukan saja saling meminta maaf. Karena memaafkan butuh keikhlasan yang amat suci, sedangkan meminta maaf cukup dengan keberanian dan tidak terlalu peduli. Ah, yang penting aku sudah minta maaf kok! Maka bagaimana sulitnya memaafkan itu? Tidak pernah bisa kita bayangkan sendiri. Bagaimana seorang anak yang divonis dokter menderita HIV, karena ibu yang melahirkannya menderita HIV juga. Dimana anak ini akan seumur hidup bergantung pada obat-obatan, jarum suntik, dan petugas kesehatan. Bukan karena kesalahannya, tapi akibat kedua orang tua nya berbuat kesalahan di masa lalu. Walau begitu menderitanya kedua orang tua anak tersebut, setiap hari semakin merasa bersalah karena telah mewariskan penyakit biadab itu kenapa anak mereka. Betapa semakin lama perasaan bersalah itu menggerogoti kesehatannya. Setiap waktu mereka diberi kesempatan, mereka ucapkan maaf setulus-ikhlas kepada anak mereka yan...

Jangan Marah, kenapa?

Jika kita pikir, perasaan marah, dengki, benci, dan dendam kita pada seseorang itu memuaskan dan membuat semuanya jadi baik buat kita, menurutku tidak. Justru semua itu dapat menghancurkan segalanya yang kita capai. Allah sengaja melarang hambaNya untuk marah. Laa taghdhab! Dia pula menjanjikan membersamai bagi hambaNya yang bersabar. Innallaha ma'ash shabiriin. "Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." Apa hikmahnya? Sesungguhnya perasaan benci, sikap marah yang tidak terkendali, dengki, dendam yang terlalu lama, hasilnya tidak ada selain kehancuran. Perasaan-perasaan yang timbul karena tidak lain dari ego seseorang, hanya merubah hal yang kurang baik menjadi lebih buruk, bukannya tambah baik. Dalam ilmu kesehatan yang ku tahu, perasaan yang muncul akibat seseorang mengedepankan ego dan emosinya terlebih dahulu, akan memicu suatu zat kimia adrenalin. Adrenalin yang akan memacu jantung untuk memompa lebih cepat. Tubuh jadi berkeringat. Penglihatan jadi lebih ...

Segalanya karena Allah saja

Dia yang di dunia ini tekun berdzikir pada Allah dalam setiap napasnya. Seorang tabi'in di masanya. Ia ucapkan "Allah" di tiap tarikan napas lembut, lalu dia ucapkan "Huwa" tiap kali napasnya berhembus. Menjadi banyak rangkaian "Huwallah" yang artinya "Dialah Allah". Sungguh sebuah ritme napas yang amat indah. Karena ia bersamai tiap siklusnya dengan ingatannya pada Rabbnya. Menunjukkan betapa seluruh hidupnya hanya untuk Allah semata. Diniatkan lillahi taala. Penghambaan tertinggi yang luar biasa yang bisa kita contoh jika Allah mengizinkan, insyaallah . *** Hasbunallah wa nikmal wakil. Cukup bagiku Allah, sebaik-baik penolong. Namun ada apa dengan diri kita, mengapa begitu jauh dari merasa hidup ini dengan Allah. Setiap langkah yang kita ambil, dan  pikiran selalu terpenuhi dengan tanya-tanya seperti nanti makan apa, nanti pergi ke mana, nanti belanja sama siapa. Hanya sedikit lafadz Allah yang kita lantunkan, minimal 5x setiap habis sh...

Berdoa tapi putus asa

Berdoa, setiap hari, dicatati oleh nya satu persatu, doa yang diajarkan oleh ustadz di daring-daring kajian yutub. Dia tempel catatannya, di tembok, tempat dia menghadap kiblat saat sholat. Supaya dia baca, supaya dia ingat untuk melantunkan doanya, terutama dalam setiap sholat, dalam setiap sujud dan takbirnya. Allahuakbar. Dia begitu putus asa. Sampai semua doa para sahabiy dan tabi'in dia tirukan. Sampai-sampai asmaul husna dia sebutkan satu persatu secara serabutan. Dia tergesa-gesa, mungkin juga ada ketakutan. Karena mungkin hidupnya tidak akan lama lagi. Napasnya terkikis oleh ketidakberdayaan dirinya di dunia yang keras ini. Dia catat doa Bilal bin Rabbah. Dia tulis doa Abu Bakar as Shiddiq. Dia hapalkan doa rutin Muadz bin Jabbal. Dia tirukan. Dia coba beri pengharapan dalam setiap tutur doanya. Dia baca di setiap sujudnya. Dia lantunkan doa diantara dua sujud, perlahan, pelan-pelan, supaya tidak terlewat dari seluruh item doa di dalamnya. Dia tarik napas lemah di setia...

Diary mawut (jangan dibaca gaes ntar toxic)

Kalo di cie in, di pasang2 in sama partner kerja, partner kuliah, temen sekelas, gue pasti senyum senyum sendiri. Bukan karena gue seneng sm yg dipasangin. Tapi gue seneng karena itu tandanya temen-temen anggep gue ada. Tanda kalau temen-temen sayang sama gue, perhatian, sengaja godain biar suasana jadi lucu  sengaja kayak ngebully tapi sebenarnya peduli. Rasanya jadi akrab sama mereka semua, jadi nyambung sm mereka semua, saat gue dipasang-pasangin gitu. Dan semuanya jadi wagu alias aneh, sewaktu temen yg dipasangin itu tiba-tiba udah punya pacar. Atau tiba-tiba udah mau menikah. Sama orang lain. Gue merasa kehilangan. Bukan kehilangan orang yg dipasangin sm gue, bukan. Tapi kehilangan kelucuan dari temen-temen gue saat nge cie in. Dan gue kehilangan kehangatan yg gue rasain dari mereka, ketika se-memaksa itu masang2in gue sm doi. Dari gaya lah, cara pemikiran lah, yg gak sengaja diketemuin lah, yg kesamaan alis, mata, bibir, sampe kesamaan bulpen aja jd ribut dan dijadiin bahan ...

Perempuan yang sangat tegar

Aku menangis mengenang lagi kisahnya hari ini. Seorang perempuan yang amat kukenal kesabarannya. Tak ku sangka dia harus diuji dengan ujian seberat itu. Meski dia seorang perempuan yang dingin dan kaku, dibalik sifat pendiamnya, aku tahu beban berat apa yang dia pendam sendirian. Tidak pernah bisa kubayangkan menjadi perempuan sepertinya. Dia kini seorang ibu dari beberapa anak yang sholeh dan membanggakan. Tapi kini ia juga seorang istri tua, setelah suaminya memutuskan menikah lagi dengan perempuan lain, di penghujung tahun kemarin. Tidak mungkin itu kabar bahagia baginya, itu seharusnya menjadi kabar sedih. Aku menerima ceritanya pun sedih, melihat dia tetap tegar dan sabar menyayangi anak-anak mereka, sekalipun kini cinta suaminya terbagi dua. Dia bilang bahwa semoga ini semua jalan dia meraih surga. Dia bilang dengan tegar bahwa dia yakin ini lah bentuk sayang Allah padanya. Dengan menguji dia dengan ujian yang tidak banyak perempuan mendapatkannya. Menguji apakah dia benar-bena...

Perubahanmu mengubahku?

Aku sebenarnya bingung dengan apa yang kurasakan sendiri belakangan ini. Masih berkaitan dengan energi negatif ku, menghilangkan kepercayaan diriku, membuat fokus ku berpaling dari hal-hal baik, dan hanya memikirkan kemungkinan terburuk. Seorang teman, yang dulu amat baik, yang dulu selalu tersenyum ketika bertemu, yang dulu hampir menangis karena takut kehilangan diriku. Tapi mendadak dia menjauh. Tanpa kutemukan apa yang salah dari hubungan kami akhir akhir ini. Dia sudah jarang mengajak ngobrol. Dia juga jarang tersenyum selebar dulu. Hanya tersenyum seperlunya yang penting sudah senyum kepadaku. Dan karena aku sudah pesimistis, sudah minder dan malu dengan diriku sendiri, juga tak sanggup untuk mendekat dan menyapa dia kembali. Membuatku takut menghadapi kemungkinan kenyataan dibalik perubahan sikapnya akhir-akhir ini. Pikiran negatif bermunculan. Membuatku menuliskan ribuan baris kesalahan yang mungkin kulakukan terhadapnya tanpa sadar. Membuat hatiku merasa bersalah setiap hari...

Energi negatif di tubuhku?

Sebelumnya aku meminta maaf karena judul postinganku kali ini sudah mulai ngelantur. Jauh sekali dari ekspektasi teman-teman yang mengenalku sebagai seorang perempuan, cantik, ceria, sering memberi semangat, punya energi ekstra, dan penuh dengan aura positif (?) Apakah kalian melihatku seperti itu? Kali ini aku akan menceritakan, atau mungkin menggambarkan tentang energi negatif yang sebetulnya lebih banyak kumiliki, jika saja bukan Allah yang menguatkanku, jika bukan Allah yang melindungiku. Selama 5 tahun terakhir, selama aku studi di sini. Setiap aku berkeluh kesah, dan itu hampir setiap saat, aku justru semakin sedih ketika akhirnya aku menyadari, aku cukup sering mengeluh. Dan terkadang aku sampai mengutuk diriku sendiri, menyalahkan diriku sendiri, sampai aku terlambat menyadari bahwa aku memang perempuan. Perempuan memang bisa saja diciptakan perasa, sensitif, kadang pun berlebihan menilai sesuatu dengan melibatkan perasaan. Tapi aku seperti hanya ada perasaan negatif yang men...

Surgery, I'm in Love

Maybe, this is the first time after a very long time, in my life. This happiness dan fullness of me when I was doing something, I felt some extra energies while I put my effort, in all this fighting time. I'm a medical student in a regency hospital, and now I'm in the surgery department. Everyday, I take early morning walking to my hospital, around 2 or 3 a.m., taking care for all my patients in surgery ward, checking their health status daily, learning the disease from them, and reporting it sistematically to my beloved mentor. It was challenging me so much all this time. And I'm enjoying these. Also sometimes, when my shift in emergency department comes, I always wait and curious about when I can join emergency surgery. Can I be one of the assistent of every wonderful surgery? Cut the wire, hold the handle, do some small things to help the operator, like suction, and sometimes they give me chance to stitch the wound. This all makes me happy and addicted. I don't kn...

Ingin Ku Ber-Rendah Hati

Inginnya aku untuk selalu tersenyum pada sikap semua sahabatku yang mengesalkan, tapi tak pernah bisa. Inginnya aku untuk selalu memahami teman-temanku yang kadang marah mungkin karena dia sedang susah, tapi aku tak bisa. Inginnya aku untuk memilih mengerti daripada mencemooh kekurangan orang lain di mataku, tapi aku selalu lupa. Salah memilih untuk selalu merendahkan dan menyalahkan dia atas kekurangannya yang tak seberapa. Aku tega. Inginnya aku untuk selalu menerima sahabatku dengan salah dan benarnya, dengan semua kurang dan lebihnya, tapi aku selalu lalai akan lebihnya. Aku selalu dahulukan ego dan perasaanku setiap kali muncul rapuhnya dia. Aku egois dan lupa ber rendah hati. Aku lalai menjaga perasaan ini. Inginnya aku selalu ber rendah hati. Inginnya aku hilangnya keegoisanku ini. Inginnya aku selalu mengerti dengan pengertian yang lebih luas. Inginnya aku selalu lebih memahami dengan pemahaman yang dalam. Hanya inginnya aku. Karena lemahnya perasaanku ini. Karena lalain...

Memahami kode-Mu, yang terbaik

Jika dipikirkan terus, aku tak akan menemukan keputusanku. Jika ditimbang terus, aku tak akan sampai pada kesimpulanku. Karena aku lemah. Allah bilang ilmu manusia itu terbatas, sedangkan ilmu Allah tidak terbatas. Allah yang menurunkan wahyu ke para nabi. Allah yang utus dan beri petunjuk ke para rasul. Kalau ke aku yang manusia biasa ini, Allah cuma bisa kasih kode-kode. Hanya saja aku harus pandai memahami kode-Nya. Dalam setiap keputusan, aku harus menyerahkan diri sepenuhnya pada-Nya. Dalam setiap perencanaan, aku harus yakin kalau ketetapan Allah yang terbaik. Suatu hari ada pangeran muda, tampan, hafal al-quran dan membawa banyak warisan datang ke kediamanku di pucuk kalbu. Merasuk lewat mata dan turun ke hatiku. Pangeran menawariku tumpangan tepat di belakangnya di pelana kuda perang. Aku hanya mampu tersipu dan terus murung. Karena menurut ayah, sang raja di hidupku, aku tak tampak siap untuk pergi dari pelukan ayah dan ibu. Menunggu terlalu lama, tampaknya pangeran terge...

Dipaksa Bilang

Kamu orang yang tertutup. Terlahir tertutup kemudian belajar caranya public speaking selama 12 tahun kamu bersekolah. Besar tetap tertutup sekalipun kamu mencoba berpikiran terbuka dan selalu ceria. Kamu introvert. Memahami dunia dan berinteraksi dengan cara diam yang intens. Menikmati keseharianmu dalam berbagai aktivitas, sendiri, menutupinya dari orang-orang yang kamu kenali. Sesekali merasa aneh jika ketahuan. Seringkali merasa takut jika dipaksa bilang. Dipaksa bilang. Dipaksa menceritakan kebaikan yang kamu lakukan secara diam-diam. Dipaksa menjabarkan perasaan. Dijejali oleh ide-ide keterbukaan yang menurutmu tidak masuk akal. Dimintai tolong untuk selalu terbuka pada apa yang kamu pikirkan. Tapi kamu tidak suka, meski dunia memaksa kamu untuk bicara. Hanya air mata mu yang keluar karena kamu kehabisan logika yang tepat untuk mencurahkan yang sebenarnya kamu rasakan. Sebanyak apapun kamu berusaha bilang, sebanyak itu pula kamu merasa semakin buruk. Karena kamu memahami dirim...