Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2019

Segalanya karena Allah saja

Dia yang di dunia ini tekun berdzikir pada Allah dalam setiap napasnya. Seorang tabi'in di masanya. Ia ucapkan "Allah" di tiap tarikan napas lembut, lalu dia ucapkan "Huwa" tiap kali napasnya berhembus. Menjadi banyak rangkaian "Huwallah" yang artinya "Dialah Allah". Sungguh sebuah ritme napas yang amat indah. Karena ia bersamai tiap siklusnya dengan ingatannya pada Rabbnya. Menunjukkan betapa seluruh hidupnya hanya untuk Allah semata. Diniatkan lillahi taala. Penghambaan tertinggi yang luar biasa yang bisa kita contoh jika Allah mengizinkan, insyaallah . *** Hasbunallah wa nikmal wakil. Cukup bagiku Allah, sebaik-baik penolong. Namun ada apa dengan diri kita, mengapa begitu jauh dari merasa hidup ini dengan Allah. Setiap langkah yang kita ambil, dan  pikiran selalu terpenuhi dengan tanya-tanya seperti nanti makan apa, nanti pergi ke mana, nanti belanja sama siapa. Hanya sedikit lafadz Allah yang kita lantunkan, minimal 5x setiap habis sh...

Berdoa tapi putus asa

Berdoa, setiap hari, dicatati oleh nya satu persatu, doa yang diajarkan oleh ustadz di daring-daring kajian yutub. Dia tempel catatannya, di tembok, tempat dia menghadap kiblat saat sholat. Supaya dia baca, supaya dia ingat untuk melantunkan doanya, terutama dalam setiap sholat, dalam setiap sujud dan takbirnya. Allahuakbar. Dia begitu putus asa. Sampai semua doa para sahabiy dan tabi'in dia tirukan. Sampai-sampai asmaul husna dia sebutkan satu persatu secara serabutan. Dia tergesa-gesa, mungkin juga ada ketakutan. Karena mungkin hidupnya tidak akan lama lagi. Napasnya terkikis oleh ketidakberdayaan dirinya di dunia yang keras ini. Dia catat doa Bilal bin Rabbah. Dia tulis doa Abu Bakar as Shiddiq. Dia hapalkan doa rutin Muadz bin Jabbal. Dia tirukan. Dia coba beri pengharapan dalam setiap tutur doanya. Dia baca di setiap sujudnya. Dia lantunkan doa diantara dua sujud, perlahan, pelan-pelan, supaya tidak terlewat dari seluruh item doa di dalamnya. Dia tarik napas lemah di setia...

Diary mawut (jangan dibaca gaes ntar toxic)

Kalo di cie in, di pasang2 in sama partner kerja, partner kuliah, temen sekelas, gue pasti senyum senyum sendiri. Bukan karena gue seneng sm yg dipasangin. Tapi gue seneng karena itu tandanya temen-temen anggep gue ada. Tanda kalau temen-temen sayang sama gue, perhatian, sengaja godain biar suasana jadi lucu  sengaja kayak ngebully tapi sebenarnya peduli. Rasanya jadi akrab sama mereka semua, jadi nyambung sm mereka semua, saat gue dipasang-pasangin gitu. Dan semuanya jadi wagu alias aneh, sewaktu temen yg dipasangin itu tiba-tiba udah punya pacar. Atau tiba-tiba udah mau menikah. Sama orang lain. Gue merasa kehilangan. Bukan kehilangan orang yg dipasangin sm gue, bukan. Tapi kehilangan kelucuan dari temen-temen gue saat nge cie in. Dan gue kehilangan kehangatan yg gue rasain dari mereka, ketika se-memaksa itu masang2in gue sm doi. Dari gaya lah, cara pemikiran lah, yg gak sengaja diketemuin lah, yg kesamaan alis, mata, bibir, sampe kesamaan bulpen aja jd ribut dan dijadiin bahan ...