Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2019

Kualitas Dunia atau Akhirat?

Bismillahirrahmanirrahim. . Selamat pagi, semuanya! Sudahkah kita memulai sesuatu dengan bismillah, dan meniatkan semuanya untuk beribadah kepada Allah? Mulai pagi ini, mari kita awali setiap kegiatan kita dengan bismillah ya. Kenapa? Agar setiap amalan kita dapat berkualitas akhirat, agar segala perbuatan dicatat sebagai hal yang baik, dan diterima oleh Allah SWT. Bagaimana dengan kualitas dunia? Insyaallah, jika Allah saja mengakui perbuatan kita, maka apalagi hamba Allah bukan? Jika tulus dalam setiap perbuatan kita, masyarakat akan menerima dan merasakan kebaikan itu. Lalu, mana dulu, kualitas dunia atau kualitas akhirat? Tentu, jika bisa keduanya akan lebih baik. Tapi kalau harus memilih salah satu, maka, pilihannya tentu saja kualitas akhirat. Karena, hidup di dunia hanya sementara dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Apa yang kita jalani saat ini mungkin akan berakhir saat kita mati, mungkin 60 tahun, mungkin sampai 90 tahun yang itu pun sudah lama sekali rasanya. Akan te...

Re-hecting "menjahit lagi"

Gambar
Hai, semuanya! Saat ini usiaku 23 tahun. Ketika teman-temanku sudah banyak yang bekerja bahkan menikah dan punya anak, aku masih sekolah dan belum selesai-selesai. Hehe. Doakan ya, semoga tahun depan sudah bisa lulus. Aamiin. Sebenarnya sejak kecil, aku tidak tahu ingin jadi apa. Aku sesekali bilang kalau aku ingin jadi dokter. Tapi ternyata sebetulnya bukan. Itu karena ayahku seorang dokter dan beliau sering bilang aku anak pintar dan bisa jadi dokter. Akhirnya, aku pikir aku bisa menjadi dokter.  Saat SD, impianku menjadi siswa teladan saja. Dan hal itu tercapai saat aku kelas 6 SD, aku berhasil menjadi juara harapan III siswa teladan se-Jawa Timur. Walau hanya lingkup provinsi, ya tapi aku sudah sangat senang. Setelah lulus, aku masuk pondok. Cita-citaku berubah dan saat itu aku tiba-tiba ingin ke luar angkasa. Tiap hari aku mempelajari bentuk-bentuk rasi bintang yang terlihat dari lapangan basket di sekolah. Aku mempelajari bagaimana mencari arah timur, barat, dan ...

Menangis Saja Dek

Aku tahu kamu hari ini melewati waktu yang berat, hatimu luka, pikirmu lelah, dan jiwamu kosong. Tanpa kamu perlu cerita, tatapanmu memberi tahuku segalanya. Menangis saja, dek. Aku akan menerimanya. Aku janji tidak akan menertawai muka lucumu ketika menitikkan air mata. Hari-hari yang berat akan berlalu. Hal-hal yang baik telah menunggu. Beban beratmu bisakah kau bagi saja denganku? Menangis saja, dek. Aku lebih baik kalau kamu menggerutu. Daripada diam namun kau menyimpan sejuta kelu. Mengilukan hati saat harus melihatmu begitu. Coba saja, pahamilah dirimu yang rindu. Coba saja, terima segala kekesalanmu. Kau boleh marah tapi aku tahu kau tak pernah bisa melakulannya, kan? Sudah ya tidak apa-apa. Kau bisa menangis di depanku. Kau boleh menangis tanpa malu.