Postingan

Memaafkan yang Lebih Sulit

Memaafkan yang lebih sulit dari meminta maaf. Karenanya Allah menyuruh hambaNya saling memaafkan, bukan saja saling meminta maaf. Karena memaafkan butuh keikhlasan yang amat suci, sedangkan meminta maaf cukup dengan keberanian dan tidak terlalu peduli. Ah, yang penting aku sudah minta maaf kok! Maka bagaimana sulitnya memaafkan itu? Tidak pernah bisa kita bayangkan sendiri. Bagaimana seorang anak yang divonis dokter menderita HIV, karena ibu yang melahirkannya menderita HIV juga. Dimana anak ini akan seumur hidup bergantung pada obat-obatan, jarum suntik, dan petugas kesehatan. Bukan karena kesalahannya, tapi akibat kedua orang tua nya berbuat kesalahan di masa lalu. Walau begitu menderitanya kedua orang tua anak tersebut, setiap hari semakin merasa bersalah karena telah mewariskan penyakit biadab itu kenapa anak mereka. Betapa semakin lama perasaan bersalah itu menggerogoti kesehatannya. Setiap waktu mereka diberi kesempatan, mereka ucapkan maaf setulus-ikhlas kepada anak mereka yan...

Jangan Marah, kenapa?

Jika kita pikir, perasaan marah, dengki, benci, dan dendam kita pada seseorang itu memuaskan dan membuat semuanya jadi baik buat kita, menurutku tidak. Justru semua itu dapat menghancurkan segalanya yang kita capai. Allah sengaja melarang hambaNya untuk marah. Laa taghdhab! Dia pula menjanjikan membersamai bagi hambaNya yang bersabar. Innallaha ma'ash shabiriin. "Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." Apa hikmahnya? Sesungguhnya perasaan benci, sikap marah yang tidak terkendali, dengki, dendam yang terlalu lama, hasilnya tidak ada selain kehancuran. Perasaan-perasaan yang timbul karena tidak lain dari ego seseorang, hanya merubah hal yang kurang baik menjadi lebih buruk, bukannya tambah baik. Dalam ilmu kesehatan yang ku tahu, perasaan yang muncul akibat seseorang mengedepankan ego dan emosinya terlebih dahulu, akan memicu suatu zat kimia adrenalin. Adrenalin yang akan memacu jantung untuk memompa lebih cepat. Tubuh jadi berkeringat. Penglihatan jadi lebih ...

Segalanya karena Allah saja

Dia yang di dunia ini tekun berdzikir pada Allah dalam setiap napasnya. Seorang tabi'in di masanya. Ia ucapkan "Allah" di tiap tarikan napas lembut, lalu dia ucapkan "Huwa" tiap kali napasnya berhembus. Menjadi banyak rangkaian "Huwallah" yang artinya "Dialah Allah". Sungguh sebuah ritme napas yang amat indah. Karena ia bersamai tiap siklusnya dengan ingatannya pada Rabbnya. Menunjukkan betapa seluruh hidupnya hanya untuk Allah semata. Diniatkan lillahi taala. Penghambaan tertinggi yang luar biasa yang bisa kita contoh jika Allah mengizinkan, insyaallah . *** Hasbunallah wa nikmal wakil. Cukup bagiku Allah, sebaik-baik penolong. Namun ada apa dengan diri kita, mengapa begitu jauh dari merasa hidup ini dengan Allah. Setiap langkah yang kita ambil, dan  pikiran selalu terpenuhi dengan tanya-tanya seperti nanti makan apa, nanti pergi ke mana, nanti belanja sama siapa. Hanya sedikit lafadz Allah yang kita lantunkan, minimal 5x setiap habis sh...

Berdoa tapi putus asa

Berdoa, setiap hari, dicatati oleh nya satu persatu, doa yang diajarkan oleh ustadz di daring-daring kajian yutub. Dia tempel catatannya, di tembok, tempat dia menghadap kiblat saat sholat. Supaya dia baca, supaya dia ingat untuk melantunkan doanya, terutama dalam setiap sholat, dalam setiap sujud dan takbirnya. Allahuakbar. Dia begitu putus asa. Sampai semua doa para sahabiy dan tabi'in dia tirukan. Sampai-sampai asmaul husna dia sebutkan satu persatu secara serabutan. Dia tergesa-gesa, mungkin juga ada ketakutan. Karena mungkin hidupnya tidak akan lama lagi. Napasnya terkikis oleh ketidakberdayaan dirinya di dunia yang keras ini. Dia catat doa Bilal bin Rabbah. Dia tulis doa Abu Bakar as Shiddiq. Dia hapalkan doa rutin Muadz bin Jabbal. Dia tirukan. Dia coba beri pengharapan dalam setiap tutur doanya. Dia baca di setiap sujudnya. Dia lantunkan doa diantara dua sujud, perlahan, pelan-pelan, supaya tidak terlewat dari seluruh item doa di dalamnya. Dia tarik napas lemah di setia...

Diary mawut (jangan dibaca gaes ntar toxic)

Kalo di cie in, di pasang2 in sama partner kerja, partner kuliah, temen sekelas, gue pasti senyum senyum sendiri. Bukan karena gue seneng sm yg dipasangin. Tapi gue seneng karena itu tandanya temen-temen anggep gue ada. Tanda kalau temen-temen sayang sama gue, perhatian, sengaja godain biar suasana jadi lucu  sengaja kayak ngebully tapi sebenarnya peduli. Rasanya jadi akrab sama mereka semua, jadi nyambung sm mereka semua, saat gue dipasang-pasangin gitu. Dan semuanya jadi wagu alias aneh, sewaktu temen yg dipasangin itu tiba-tiba udah punya pacar. Atau tiba-tiba udah mau menikah. Sama orang lain. Gue merasa kehilangan. Bukan kehilangan orang yg dipasangin sm gue, bukan. Tapi kehilangan kelucuan dari temen-temen gue saat nge cie in. Dan gue kehilangan kehangatan yg gue rasain dari mereka, ketika se-memaksa itu masang2in gue sm doi. Dari gaya lah, cara pemikiran lah, yg gak sengaja diketemuin lah, yg kesamaan alis, mata, bibir, sampe kesamaan bulpen aja jd ribut dan dijadiin bahan ...

Perempuan yang sangat tegar

Aku menangis mengenang lagi kisahnya hari ini. Seorang perempuan yang amat kukenal kesabarannya. Tak ku sangka dia harus diuji dengan ujian seberat itu. Meski dia seorang perempuan yang dingin dan kaku, dibalik sifat pendiamnya, aku tahu beban berat apa yang dia pendam sendirian. Tidak pernah bisa kubayangkan menjadi perempuan sepertinya. Dia kini seorang ibu dari beberapa anak yang sholeh dan membanggakan. Tapi kini ia juga seorang istri tua, setelah suaminya memutuskan menikah lagi dengan perempuan lain, di penghujung tahun kemarin. Tidak mungkin itu kabar bahagia baginya, itu seharusnya menjadi kabar sedih. Aku menerima ceritanya pun sedih, melihat dia tetap tegar dan sabar menyayangi anak-anak mereka, sekalipun kini cinta suaminya terbagi dua. Dia bilang bahwa semoga ini semua jalan dia meraih surga. Dia bilang dengan tegar bahwa dia yakin ini lah bentuk sayang Allah padanya. Dengan menguji dia dengan ujian yang tidak banyak perempuan mendapatkannya. Menguji apakah dia benar-bena...

Perubahanmu mengubahku?

Aku sebenarnya bingung dengan apa yang kurasakan sendiri belakangan ini. Masih berkaitan dengan energi negatif ku, menghilangkan kepercayaan diriku, membuat fokus ku berpaling dari hal-hal baik, dan hanya memikirkan kemungkinan terburuk. Seorang teman, yang dulu amat baik, yang dulu selalu tersenyum ketika bertemu, yang dulu hampir menangis karena takut kehilangan diriku. Tapi mendadak dia menjauh. Tanpa kutemukan apa yang salah dari hubungan kami akhir akhir ini. Dia sudah jarang mengajak ngobrol. Dia juga jarang tersenyum selebar dulu. Hanya tersenyum seperlunya yang penting sudah senyum kepadaku. Dan karena aku sudah pesimistis, sudah minder dan malu dengan diriku sendiri, juga tak sanggup untuk mendekat dan menyapa dia kembali. Membuatku takut menghadapi kemungkinan kenyataan dibalik perubahan sikapnya akhir-akhir ini. Pikiran negatif bermunculan. Membuatku menuliskan ribuan baris kesalahan yang mungkin kulakukan terhadapnya tanpa sadar. Membuat hatiku merasa bersalah setiap hari...