Postingan

Pilihanmu Penyesalanmu

Kita setiap hari memilih dengan begitu mudah tanpa kita sadari, hingga pilihan-pilihan sulit yang menyita seluruh energi. Karena setiap hembusan napas kita adalah pilihan. Memilih untuk melangkah atau berhenti. Memilih untuk berbicara atau bungkam. Juga memilih untuk bekerja atau diam saja. Mulai membuka mata, melangkahkan kaki, membuka mulut dan bersuara. Kita memilih untuk melakukannya atau tidak melakukannya. Karena memilih adalah rutinitas. Sedari kecil kita melakukan hingga seperti kebiasaan. Sehingga tidak terasa selama hidup kita sudah milyaran kali melakukan proses memilih. Maka, seharusnya tidak perlu khawatir menyesalinya. Karena memilih tidak karena kita ingin menang. Tapi memilih karena kita ingin belajar mengenai konsekuensi dari sebuah pilihan. Dan belajar memahami rasa, rasanya puas terhadap suatu pilihan, dan rasanya menyesal. Jika kita nisbahkan pilihan kita pada skenario Allah SWT, maka kita akan tenang. Di setiap hembusan napas kita serahkan pada Allah SWT, tenta...

Ragu, siapa rugi?

Menaruh ragu, siapa yang rugi, tidak berkurang yang diragukan, tapi hati sendiri yang kepikiran. Menaruh dengki, siapa yang rugi, bukan memburuk citra yang didengki, melainkan sifat sendiri yang semakin tak terpuji. Meluapkan marah, siapa yang rugi, tak akan hancur yang dimarahi, tapi akal sehat yang 'kan mengeras dan tercela sendiri. Jika saja bisa lebih sabar, maka Allah sendiri yang membersamai.

Menghindari argumen

"Nyata, setiap orang punya cara pandang yang berbeda-beda." "Namun, perbedaan itu indah, jika kita menerimanya dengan baik." "Jika semuanya ingin menang, akan terjadi adu argumen. Maksudnya adu argumen yang akan sia-sia." "Karena kita bertemu, untuk bersama menemukan kebenaran, dan saling memberi manfaat. Bukan untuk sendiri menjadi benar." Aku pernah bertemu dengan berbagai kamu dengan beragam karakter, berbeda latar belakang, tapi kita satu tujuan, yaitu kebenaran. Kebenaran agar terwujud keadilan agar semua dapat hidup bahagia. Kalau aku kekeuh dengan nilai kebenaran yang kuyakini, namun menafikan seluruh nilai kebenaranmu, tanpa perlu sedikit pun peduli, maka apa artinya aku (merasa) benar sendirian? Sekejap, hanya bangga akhirnya aku yang diakui semua orang sebagai paling benar. Merasa semua dalam diriku adalah kelebihan dan kekurangan adalah selain diriku. Mengacuhkan nilai benarmu tanpa mau mendengar. Berakhir sendirian. Karena kamu m...

Memaafkan yang Lebih Sulit

Memaafkan yang lebih sulit dari meminta maaf. Karenanya Allah menyuruh hambaNya saling memaafkan, bukan saja saling meminta maaf. Karena memaafkan butuh keikhlasan yang amat suci, sedangkan meminta maaf cukup dengan keberanian dan tidak terlalu peduli. Ah, yang penting aku sudah minta maaf kok! Maka bagaimana sulitnya memaafkan itu? Tidak pernah bisa kita bayangkan sendiri. Bagaimana seorang anak yang divonis dokter menderita HIV, karena ibu yang melahirkannya menderita HIV juga. Dimana anak ini akan seumur hidup bergantung pada obat-obatan, jarum suntik, dan petugas kesehatan. Bukan karena kesalahannya, tapi akibat kedua orang tua nya berbuat kesalahan di masa lalu. Walau begitu menderitanya kedua orang tua anak tersebut, setiap hari semakin merasa bersalah karena telah mewariskan penyakit biadab itu kenapa anak mereka. Betapa semakin lama perasaan bersalah itu menggerogoti kesehatannya. Setiap waktu mereka diberi kesempatan, mereka ucapkan maaf setulus-ikhlas kepada anak mereka yan...

Jangan Marah, kenapa?

Jika kita pikir, perasaan marah, dengki, benci, dan dendam kita pada seseorang itu memuaskan dan membuat semuanya jadi baik buat kita, menurutku tidak. Justru semua itu dapat menghancurkan segalanya yang kita capai. Allah sengaja melarang hambaNya untuk marah. Laa taghdhab! Dia pula menjanjikan membersamai bagi hambaNya yang bersabar. Innallaha ma'ash shabiriin. "Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." Apa hikmahnya? Sesungguhnya perasaan benci, sikap marah yang tidak terkendali, dengki, dendam yang terlalu lama, hasilnya tidak ada selain kehancuran. Perasaan-perasaan yang timbul karena tidak lain dari ego seseorang, hanya merubah hal yang kurang baik menjadi lebih buruk, bukannya tambah baik. Dalam ilmu kesehatan yang ku tahu, perasaan yang muncul akibat seseorang mengedepankan ego dan emosinya terlebih dahulu, akan memicu suatu zat kimia adrenalin. Adrenalin yang akan memacu jantung untuk memompa lebih cepat. Tubuh jadi berkeringat. Penglihatan jadi lebih ...

Segalanya karena Allah saja

Dia yang di dunia ini tekun berdzikir pada Allah dalam setiap napasnya. Seorang tabi'in di masanya. Ia ucapkan "Allah" di tiap tarikan napas lembut, lalu dia ucapkan "Huwa" tiap kali napasnya berhembus. Menjadi banyak rangkaian "Huwallah" yang artinya "Dialah Allah". Sungguh sebuah ritme napas yang amat indah. Karena ia bersamai tiap siklusnya dengan ingatannya pada Rabbnya. Menunjukkan betapa seluruh hidupnya hanya untuk Allah semata. Diniatkan lillahi taala. Penghambaan tertinggi yang luar biasa yang bisa kita contoh jika Allah mengizinkan, insyaallah . *** Hasbunallah wa nikmal wakil. Cukup bagiku Allah, sebaik-baik penolong. Namun ada apa dengan diri kita, mengapa begitu jauh dari merasa hidup ini dengan Allah. Setiap langkah yang kita ambil, dan  pikiran selalu terpenuhi dengan tanya-tanya seperti nanti makan apa, nanti pergi ke mana, nanti belanja sama siapa. Hanya sedikit lafadz Allah yang kita lantunkan, minimal 5x setiap habis sh...

Berdoa tapi putus asa

Berdoa, setiap hari, dicatati oleh nya satu persatu, doa yang diajarkan oleh ustadz di daring-daring kajian yutub. Dia tempel catatannya, di tembok, tempat dia menghadap kiblat saat sholat. Supaya dia baca, supaya dia ingat untuk melantunkan doanya, terutama dalam setiap sholat, dalam setiap sujud dan takbirnya. Allahuakbar. Dia begitu putus asa. Sampai semua doa para sahabiy dan tabi'in dia tirukan. Sampai-sampai asmaul husna dia sebutkan satu persatu secara serabutan. Dia tergesa-gesa, mungkin juga ada ketakutan. Karena mungkin hidupnya tidak akan lama lagi. Napasnya terkikis oleh ketidakberdayaan dirinya di dunia yang keras ini. Dia catat doa Bilal bin Rabbah. Dia tulis doa Abu Bakar as Shiddiq. Dia hapalkan doa rutin Muadz bin Jabbal. Dia tirukan. Dia coba beri pengharapan dalam setiap tutur doanya. Dia baca di setiap sujudnya. Dia lantunkan doa diantara dua sujud, perlahan, pelan-pelan, supaya tidak terlewat dari seluruh item doa di dalamnya. Dia tarik napas lemah di setia...