Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

ada "masa"nya dalam "masalah" dan ada yg "pro" dalam "problema"

Maksudnya, selalu ada kebaikan dalam sesuatu yang terlihat buruk oleh mata dangkal kita, jika kita mau melihat lebih dalam dan lebih lama. Ada masanya dalam suatu permasalahan.  Sebagian dari kita ada yang mudah sekali menyerah ketika dihadapkan dengan masalah yang terus bertambah, yang dirasa berat, dirasa baru dan kita tidak berpengalaman menghadapinya.  Padahal, sesungguhnya, ada masa nya kapan kita mendapat masalah seperti itu. Masalah-masalah yang kerap datang sebetulnya juga dialami oleh teman kita. Hanya saja, kini lah tibanya masa kita mendapat masalah yang sama dengan mereka.  Bukankah kita itu seperti pohon? Seiring bertambah usia, pohon akan tumbuh semakin tinggi, menjulang ke langit. Semakin tinggi pohon tersebut, akan semakin kencang angin yang mengenai pucuknya. Semakin dekat juga dengan petir dan badai. Begitu juga kita, semakin tua, akan semakin kencang badai kehidupan yang akan menerpa.  And then , pernah lihat pohon yang roboh karena anginny...

mungil dan kecil

kami jiwa yang bebas sayap yang tiada terpatahkan perasaan bahagia yang tak kenal situasi siapa pun tak seharusnya tega meninggalkan kami, kak kami layak untuk dicintai karena kami mencintai kakak tanpa mengerti apa itu cinta kakak mengajari kami makna cinta dengan tidak mencintai kami lagi apa itu kasih apa itu pengorbanan untuk yang terkasih kami tidak ambil pusing menjawabnya karena kami sudah cukup dengan merasakan semua dari kakak memutuskan untuk bahagia adalah kebahagiaan sejati kami generasi mungil badan kami kecil lihatlah dari kami terpancar kebahagiaan tak terperi dari kami terujar kesenangan tak bertepi menikmati mensyukuri tidak mengharapkan di luar apa yang kami terima kami semua senang kak kami semua bahagia dengan semuanya jangan tinggalkan kami, kak mari bahagia kita berdua bersama sampai tua

Mawarku kehilangan duri dan warna

Mawarku, Telah kehilangan duri dan warna Matahariku, Namun tak lagi terang cahayanya Manis madu, Kini hanya tersisa aroma Rumahku, Tiada lagi punya pintu dan jendela Aku di luar logika Aku tiada mampu melihatmu Kecapku kun tiada lagi indah untuk meresapimu Hatiku menutup sendiri Tak mengizinkan kesempatan apapun tuk memasuki Yang sejati Yang tak akan pernah lagi Ketika sore tiba lagi, terikmu yang tiada lagi memanasi bumi, daku siap menyambut malam, yang kan segera menyelimuti. Tapi malam membuatnya takuy Hanya dia dengar suara jam bergemuruh seram Membuatnya seolah berkawan Tapi pagi membawanya sendirian Semua langkah pergi menjauh Semua suara pergi, sibuk meniup ramai Hanya dia diam sendiri Dia terkesal oleh prasangka Memilih tenang dalam kebingungan Miliknya arah mata angin sejumlah dua belas Semakin hingar jika ia memilih satu saja Sungguh dia kini kesunyian Terhalang tembok hingga sesuatupun tidak temukan Dimana dia? Masih apa? Masihkah dia? Ma...