Apa kamu mengenal orang-orang yang merindukan kematian? Apa kamu kenal rasanya rindu bertemu dengan Rabbi, sehingga tak ingin rasanya hidup lebih lama? Apa kamu pernah tahu bahwa para ulama begitu mendambakan kematian karena hidup terlalu lama membuat mereka takut jika dosa juga semakin banyak? Bukannya takut mati. Bukannya takut kehilangan dunia ini. Karena kita semua sedang menuju tujuan paling akhir kita, yaitu mati, dimana disitulah hidup kita dimulai lagi, hidup yang jauh lebih kekal abadi, di akhirat nanti. Bagi mereka yang rindu kematian dan menjadikan akhirat tujuan akhirnya, bagi mereka, ternyata hidup seluruhnya adalah ujian. Ketika mereka gembira, mendapatkan banyak harta rejeki, bertemu dengan teman-teman baik, memperoleh anak-anak yang sholeh dan sholehah, mereka tidak sombong. Karena kegembiraan bagi mereka adalah ujian syukur. Mereka justru merasa diuji lewat hal-hal baik, melihat apakah mereka bisa bersyukur, bisa kah mengakui bahwa semua itu atas karunia Allah buk...
"Nyata, setiap orang punya cara pandang yang berbeda-beda." "Namun, perbedaan itu indah, jika kita menerimanya dengan baik." "Jika semuanya ingin menang, akan terjadi adu argumen. Maksudnya adu argumen yang akan sia-sia." "Karena kita bertemu, untuk bersama menemukan kebenaran, dan saling memberi manfaat. Bukan untuk sendiri menjadi benar." Aku pernah bertemu dengan berbagai kamu dengan beragam karakter, berbeda latar belakang, tapi kita satu tujuan, yaitu kebenaran. Kebenaran agar terwujud keadilan agar semua dapat hidup bahagia. Kalau aku kekeuh dengan nilai kebenaran yang kuyakini, namun menafikan seluruh nilai kebenaranmu, tanpa perlu sedikit pun peduli, maka apa artinya aku (merasa) benar sendirian? Sekejap, hanya bangga akhirnya aku yang diakui semua orang sebagai paling benar. Merasa semua dalam diriku adalah kelebihan dan kekurangan adalah selain diriku. Mengacuhkan nilai benarmu tanpa mau mendengar. Berakhir sendirian. Karena kamu m...
Aku tahu kamu hari ini melewati waktu yang berat, hatimu luka, pikirmu lelah, dan jiwamu kosong. Tanpa kamu perlu cerita, tatapanmu memberi tahuku segalanya. Menangis saja, dek. Aku akan menerimanya. Aku janji tidak akan menertawai muka lucumu ketika menitikkan air mata. Hari-hari yang berat akan berlalu. Hal-hal yang baik telah menunggu. Beban beratmu bisakah kau bagi saja denganku? Menangis saja, dek. Aku lebih baik kalau kamu menggerutu. Daripada diam namun kau menyimpan sejuta kelu. Mengilukan hati saat harus melihatmu begitu. Coba saja, pahamilah dirimu yang rindu. Coba saja, terima segala kekesalanmu. Kau boleh marah tapi aku tahu kau tak pernah bisa melakulannya, kan? Sudah ya tidak apa-apa. Kau bisa menangis di depanku. Kau boleh menangis tanpa malu.
Komentar
Posting Komentar