Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

#mentalhealth Am I depressed?

Feeling uneasy, can't stop questioning why i'm not moving any where. Being stuck in my room for several days, didn't have any energy to say hi even to my roommate who I always meet every night. Didn't have any appetites. I didn't have any plans.  But I'm grateful that I still breath, still can see every beauty from this world, the sky, the nature, the road, and the beautiful me. Mwehehe. But, maybe, am I alone? There's no one I can tell them about my worry. No one I can cry on their shoulder. No one I can share them all my opinion. I was afraid. Always feeling this was all frightened. Every morning seems cold. Every night seems so hard. I need home. I need my mom, my dad, and my brother or sister. I just think that I couldn't go on my life again. I need to stop, to breath slower, to breath deeper. To think again what I'm gonna do later. To make my life happier.

#coasslife Pasien Pengabdian

Kali ini aku mau bercerita tentang pasien kasus ujianku di stase penyakit dalam. Seorang bapak, usianya 64 th, sebut saja Pak M. Kenapa ku sebut pasien pengabdian, karena pengabdiannya terhadap ujianku lumayan, pengorbanannya yang begitu besar. Pak M. sebetulnya sudah dari awal menyadari bahwa dirinya menjadi pasien ujianku, kasarnya sih dibuat percobaan oleh seorang sarjana kedokteran bodoh yg sedang menimba ilmu di keprofesian. Kebetulan, Pak M. lah yang "beruntung" yang ditunjuk oleh dokter pembimbingku untuk menjadi pasien ujianku. Namun, qadarullah Pak M. tetap bersedia dan begitu sabar selama pemeriksaan oleh koas lamban seperti aku. Hehe. Kata dokter konsulenku waktu itu, "Pak M., setelah ini kita diskusi di poli ya sama dokter mudanya. Nanti dokter mudanya yang periksa." Sambil bersalaman dengan Pak M. Aku pun tersenyum lebar (lebih karena kaget karena mendapatkan kasus yang sulit) dan memperkenalkan diriku kepada Pak M dan istrinya yang bercadar. Alamak ...

#coasslife Pasienku Gila dalam Sholat dan Dzikirnya

Pasienku perempuan, panggil saja Ibu M, usianya 55 tahun ketika dia menderita gangguan di dalam pikir dan jiwanya. Pasienku datang ke IGD pada pukul 14.30, duduk menekuk lututnya, masih memakai mukena atas dan bawah yg tidak matching, dimana kulihat bibirnya yg ungu terus menggumamkan nama Tuhannya, Allah. Laa ilaa ha illallah muhammadun rasulullah. Allah.. orang ini sama sekali ndak kelihatan lemah atau sakit jd kenapa sampai dibawa kesini? Dokter jaga IGD memanggil dan menyuruhku memeriksa pasien itu di ruang triase. Ruang triase seharusnya jadi tempat untuk menentukan level kegawatan pasien-pasien yang datang ke IGD. Namun karena semua bed di IGD sudah penuh, pasienku jadi prioritas terakhir utk ditempatkan di bed. Pemeriksaan pun kulakukan di meja triase. Pasiennya lalu ku tensi, ternyata tinggi waktu itu 150/100. Kutanya ibu sakit apa, dia bilang dadanya begitu sakit, berpindah-pindah sepanjang lapang perut dan dada. Cara ibu mendefinisikan lokasi nyeri di dadanya itu tidak kh...