Postingan

Kualitas Dunia atau Akhirat?

Bismillahirrahmanirrahim. . Selamat pagi, semuanya! Sudahkah kita memulai sesuatu dengan bismillah, dan meniatkan semuanya untuk beribadah kepada Allah? Mulai pagi ini, mari kita awali setiap kegiatan kita dengan bismillah ya. Kenapa? Agar setiap amalan kita dapat berkualitas akhirat, agar segala perbuatan dicatat sebagai hal yang baik, dan diterima oleh Allah SWT. Bagaimana dengan kualitas dunia? Insyaallah, jika Allah saja mengakui perbuatan kita, maka apalagi hamba Allah bukan? Jika tulus dalam setiap perbuatan kita, masyarakat akan menerima dan merasakan kebaikan itu. Lalu, mana dulu, kualitas dunia atau kualitas akhirat? Tentu, jika bisa keduanya akan lebih baik. Tapi kalau harus memilih salah satu, maka, pilihannya tentu saja kualitas akhirat. Karena, hidup di dunia hanya sementara dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Apa yang kita jalani saat ini mungkin akan berakhir saat kita mati, mungkin 60 tahun, mungkin sampai 90 tahun yang itu pun sudah lama sekali rasanya. Akan te...

Re-hecting "menjahit lagi"

Gambar
Hai, semuanya! Saat ini usiaku 23 tahun. Ketika teman-temanku sudah banyak yang bekerja bahkan menikah dan punya anak, aku masih sekolah dan belum selesai-selesai. Hehe. Doakan ya, semoga tahun depan sudah bisa lulus. Aamiin. Sebenarnya sejak kecil, aku tidak tahu ingin jadi apa. Aku sesekali bilang kalau aku ingin jadi dokter. Tapi ternyata sebetulnya bukan. Itu karena ayahku seorang dokter dan beliau sering bilang aku anak pintar dan bisa jadi dokter. Akhirnya, aku pikir aku bisa menjadi dokter.  Saat SD, impianku menjadi siswa teladan saja. Dan hal itu tercapai saat aku kelas 6 SD, aku berhasil menjadi juara harapan III siswa teladan se-Jawa Timur. Walau hanya lingkup provinsi, ya tapi aku sudah sangat senang. Setelah lulus, aku masuk pondok. Cita-citaku berubah dan saat itu aku tiba-tiba ingin ke luar angkasa. Tiap hari aku mempelajari bentuk-bentuk rasi bintang yang terlihat dari lapangan basket di sekolah. Aku mempelajari bagaimana mencari arah timur, barat, dan ...

Menangis Saja Dek

Aku tahu kamu hari ini melewati waktu yang berat, hatimu luka, pikirmu lelah, dan jiwamu kosong. Tanpa kamu perlu cerita, tatapanmu memberi tahuku segalanya. Menangis saja, dek. Aku akan menerimanya. Aku janji tidak akan menertawai muka lucumu ketika menitikkan air mata. Hari-hari yang berat akan berlalu. Hal-hal yang baik telah menunggu. Beban beratmu bisakah kau bagi saja denganku? Menangis saja, dek. Aku lebih baik kalau kamu menggerutu. Daripada diam namun kau menyimpan sejuta kelu. Mengilukan hati saat harus melihatmu begitu. Coba saja, pahamilah dirimu yang rindu. Coba saja, terima segala kekesalanmu. Kau boleh marah tapi aku tahu kau tak pernah bisa melakulannya, kan? Sudah ya tidak apa-apa. Kau bisa menangis di depanku. Kau boleh menangis tanpa malu.

Pilihanmu Penyesalanmu

Kita setiap hari memilih dengan begitu mudah tanpa kita sadari, hingga pilihan-pilihan sulit yang menyita seluruh energi. Karena setiap hembusan napas kita adalah pilihan. Memilih untuk melangkah atau berhenti. Memilih untuk berbicara atau bungkam. Juga memilih untuk bekerja atau diam saja. Mulai membuka mata, melangkahkan kaki, membuka mulut dan bersuara. Kita memilih untuk melakukannya atau tidak melakukannya. Karena memilih adalah rutinitas. Sedari kecil kita melakukan hingga seperti kebiasaan. Sehingga tidak terasa selama hidup kita sudah milyaran kali melakukan proses memilih. Maka, seharusnya tidak perlu khawatir menyesalinya. Karena memilih tidak karena kita ingin menang. Tapi memilih karena kita ingin belajar mengenai konsekuensi dari sebuah pilihan. Dan belajar memahami rasa, rasanya puas terhadap suatu pilihan, dan rasanya menyesal. Jika kita nisbahkan pilihan kita pada skenario Allah SWT, maka kita akan tenang. Di setiap hembusan napas kita serahkan pada Allah SWT, tenta...

Ragu, siapa rugi?

Menaruh ragu, siapa yang rugi, tidak berkurang yang diragukan, tapi hati sendiri yang kepikiran. Menaruh dengki, siapa yang rugi, bukan memburuk citra yang didengki, melainkan sifat sendiri yang semakin tak terpuji. Meluapkan marah, siapa yang rugi, tak akan hancur yang dimarahi, tapi akal sehat yang 'kan mengeras dan tercela sendiri. Jika saja bisa lebih sabar, maka Allah sendiri yang membersamai.

Menghindari argumen

"Nyata, setiap orang punya cara pandang yang berbeda-beda." "Namun, perbedaan itu indah, jika kita menerimanya dengan baik." "Jika semuanya ingin menang, akan terjadi adu argumen. Maksudnya adu argumen yang akan sia-sia." "Karena kita bertemu, untuk bersama menemukan kebenaran, dan saling memberi manfaat. Bukan untuk sendiri menjadi benar." Aku pernah bertemu dengan berbagai kamu dengan beragam karakter, berbeda latar belakang, tapi kita satu tujuan, yaitu kebenaran. Kebenaran agar terwujud keadilan agar semua dapat hidup bahagia. Kalau aku kekeuh dengan nilai kebenaran yang kuyakini, namun menafikan seluruh nilai kebenaranmu, tanpa perlu sedikit pun peduli, maka apa artinya aku (merasa) benar sendirian? Sekejap, hanya bangga akhirnya aku yang diakui semua orang sebagai paling benar. Merasa semua dalam diriku adalah kelebihan dan kekurangan adalah selain diriku. Mengacuhkan nilai benarmu tanpa mau mendengar. Berakhir sendirian. Karena kamu m...

Memaafkan yang Lebih Sulit

Memaafkan yang lebih sulit dari meminta maaf. Karenanya Allah menyuruh hambaNya saling memaafkan, bukan saja saling meminta maaf. Karena memaafkan butuh keikhlasan yang amat suci, sedangkan meminta maaf cukup dengan keberanian dan tidak terlalu peduli. Ah, yang penting aku sudah minta maaf kok! Maka bagaimana sulitnya memaafkan itu? Tidak pernah bisa kita bayangkan sendiri. Bagaimana seorang anak yang divonis dokter menderita HIV, karena ibu yang melahirkannya menderita HIV juga. Dimana anak ini akan seumur hidup bergantung pada obat-obatan, jarum suntik, dan petugas kesehatan. Bukan karena kesalahannya, tapi akibat kedua orang tua nya berbuat kesalahan di masa lalu. Walau begitu menderitanya kedua orang tua anak tersebut, setiap hari semakin merasa bersalah karena telah mewariskan penyakit biadab itu kenapa anak mereka. Betapa semakin lama perasaan bersalah itu menggerogoti kesehatannya. Setiap waktu mereka diberi kesempatan, mereka ucapkan maaf setulus-ikhlas kepada anak mereka yan...